Melancong Seru Ke Pulau Dompak, Tanjungpinang
Saya juga ada bilang kan di postingan sebelumnya kalau saya akan bantu temen dalam pengerjaan karya tulisnya? Nah, dia tuh studi lapangannya ke Dompak, salah satu kelurahan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Dia ingin meneliti tentang suku laut, salah satu suku asli nan primitif yang ada di Kepualauan Riau. Awalnya kami kesana di hari Senin, saat itu karena habis upacara Hardiknas, tanpa sengaja salah satu teman dalam tim kami punya ide gila untuk pergi di hari itu juga. Soalnya para murid disandera sekolah sampe jam 12 padahal ga belajar. Awalnya kami rencanakan pergi lewat laut naik pompong(sejenis sampan/perahu). Eh, ga taunya udah ga ada pompong yang kesana lagi. Alhasil kami lewat jalan darat. Lewat Jembatan.
Awalnya kami hanya cemas karena jaraknya yang jauh, ga taunya kecemasan kami bertambah. Hari itu ada sedikit gerimis, dan itu menyebabkan jalanan jadi licin oleh tanah merah. Dan motor-motor para ojekers kami ini berkemungkinan terjerembab dan tak bisa keluar. Saya sampai jatuh loh kawan-kawan! Awalnya tuh gapapa jalan di jalanan licin, sekali teman kami minta stop karena merasa ga bisa lanjut. 'Ojek' ku jadi oleng dan motornya terpleset persis kayak seorang pembalap. Untungnya tanganku masih cukup sigap untuk menahan jatuhnya motor. Sehingga baju OSIS ku itu tetap putih. Kalau tidak?? Aku ga bakal pulang kerumah..
Di hari berikutnya kami sudah mempersiapkan matang-matang. Dengan tidak menggunakan baju sekolah(celana kami putih saat hari rabu-kamis karena kami pakai batik). Eh, emang nasib ada lagi masalah baru. Saat Ojekers melewati perempatan salah satu 'Ojek' kami ditahan oleh petugas polantas karena ada razia (padahal setelah diusut razianya nggak resmi). Kami sempat tertahan dan berjibaku dengan si Polisi brengsek itu agar teman kami lepas. Alhasil uanglah yang nampar tuh polisi biar mingkem. 100 ribu melayang. Salah satu anggota tim kami sempat berpikir, 'banyak kali cobaan untuk ke Dompak, padahal disana kita belum tentu jumpa suku laut. Mungkin lebih baik kita ketempat yang lain aja' Namun saya meyakinkan dia bahwa semua ada hikmahnya. Dan semua ini tidak akan sia-sia buat kita.
Setelah 'Ojek' kami tadi tu nyusul, kami pun melanjutkan perjalan dengan sepi. Ternyata, dari tempat terakhir kali kami berhenti dan memutuskan untuk kembali, lokasinya tuh ga jauh dari tempat yang kami tuju. Dongkol deh. Padahal kalo kemarin lanjutin, kan udah nyampe. Setelah melakukan wawancara dengan 2 RT setempat akhirnya kami bergegas mau pulang, tapi para ladies minta foto-foto dulu. Setelah itu kami meluncur ke Tanjungpinang lagi, dan si empunya karya tulis mentraktir kami disebuah rumah makan lesehan sederhana. Sedikit bincang-bincang tentang yang sudah dilalui, hal-hal yang dapat dimasukkan di karya tulis, dan sedikit obrolan ngalor ngidul, akhirnya pulang ke rumah masing-masing(nggak juga padahal). Dan 'Ojek' ku dengan setia mengantarkan sampai rumah, si empunya kartul pun ikut pingin lihat rumahku di ojeki oleh YayanKnya sendiri. Ehehem.. Hahaha.. Oleh-oleh dari perjalanan ini? Banyak! ada banyak foto dan 2 teman baru. Yaitu Anol(Yayangnya si empunya kartul) dan Dani(sahabatnya Anol). Sekarang mereka berdua udah jadi temen dekat lah.. Sekarang liat kejadian-kejadian yang terekam kameraku yuk! Kata pamungkasnya: Biarkan foto yang berbicara~
Part 1: The expedition wasn't complete
| Lokasi ini tidak jauh dari tempat saya jatuh.. lihat kan tanahnya? Nampak bekas roda tergelincir ga disitu? |
| Meski aku jatuh, pekerjaan tetap nomor 1. Foto |
| Setelah jatuh itu kami memutuskan jalan kaki, tapi karna gatel lihat pemandangan yang belum pernah dilihat dan itu menakjubkan, maka tercetaklah gambar-gambar lagi |
| Berasa model dianya.. berasa fotografer akunya.. haha senangnya~ |
| Tetep.. Jepret! Oh ya kenalkan, dia Oyi |
| Pasangan muda mudi yang sedang dirantai cinta Berjalan berdua menerjang bahaya.. Oh so sweet~ Kenalkan, yang kiri Retno(empunya kartul) dan yang kanan Anol(pangerannya) |
| Lihat deh betapa mengerikannya akses jalan kesana.. Disinyalir truk pun bisa ga selamat kalau lewat sini habis ujan Tapi tebing-tebing itu pemandangan tersendiri bagi pengalaman saya.. |
| Betul saja, sepasang kakak-kakak terjerembab motornya dan ga bisa mutar rodanya.. Anol dengan jiwa ksatrianya langsung segera menolong tanpa di komando |
| Tiba di jembatan penyeberangan menuju Dompak~ Ini jembatan ke 2 However, Retno memaksa difoto, katanya mau dijadiin PP Semoga puas dengan hasil jepretan saya~ |
| Oyi, Pose! Jepret. Mau aja dia.. hahaha |
| Ada yang punya kelong. Karena mayoritas suku laut dan masyarakat melayu Dompak bermata pencarian sebagai Nelayan |
| Sampan/Perahu merupakan transportasi yang masih digunakan oleh mereka untuk menyeberangi teluk dibawah kami(dibawah jembatan) Tapi benarkah saya sebut itu teluk? Siapa tau sungai.. Whateverlah~ |
| Mulai cemas dengan Pasangannya merpati satu ini menelpon dengan Harap Harap Cemas (H2C) |
| Kalo lihat jalan-jalan menuju kesana yang begitu besar dan panjang, rasanya pingin nyanyi: Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan~ |
Part 2: The Smile of Satisfaction
| Kami datang untuk yang kedua kalinya, tanpa rasa canggung dan tak terasa justru lebih cepat dari kedatangan pertama |
| Aku, Dani, Ian, Pak Kesar, Retno dan Oyi Setelah selesai wawancara, tuntutan lampiran untuk karya tulis adalah foto |
| Pak Kesar pun dengan senang hati mengantarkan kami ke RT yang lain Untuk diwawancarai juga.. |
| Bakat alami. Narsis. Korban alami. Fotografer |
| Gimana hasilnya okeh kan? Hehehe |
| Di rumah Pak Kesar pun kami sempat foto. |
| Anol dan Willy sedang ngetes kamera masing-masing Rencananya mau bikin foto Retno lagi lompat |
| Melihat semacam tambak, Anol terusik dan penasaran Tanpa berpikir panjang ia langsung melihatnya (padahal bahaya loh) Don't try this at anywhere! |
| Anol meminta aku foto dia. Waa Waa Waa.. Nah jadinya gimana nol? Keren kan? (Fotonya, bukan kamunya) |
| Ah.. mungkin saya bisa beralih jadi seorang Pra-Wedding Fotografer Soo Cuuiiit~ Semoga berbahagia.. Hahaha |
| Habis dari Dompak pergi makan siang di traktir Retno. Lesehan~ |
| Willy tetep keukeuh untuk unjuk gigi Tau lah wil, fotografer pro~ Sombongnya.. |
Bonus Part: Critical Beauty of Panorama
| Nah ini jepretan ku yang indah-indah, nikmatilah~ Sebuah Tambak di tepi pantai berpasir putih sehabis hujan |
| Gua batu bentukan hasil ekploitasi bumi Dompak. Meski demikian, tetep eksotis dan bikin penasaran kepingin lihat lebih dekat |
| Kantor Gubernur Kepri diatas Tanah Merah Itu rencananya mau jadi kantor gub yang baru. Tapi ga tau deh kapan Rencananya Dompak akan dikembangkan sebagai pusat pemerintahan Rencananya... |
| The Beuty Of The Sea at Dompak Itu semacam dermaga kecil milik warga untuk sampan mereka Meski tanpa gunung, bintan memiliki bukit.. Halah.. Hehehe |
| Saya minta Dani fotoin. Entah kenapa saya minta begini Tapi ada rasa tersendiri di foto ini |
| Fishing Is My Life Mengabadikan salah satu sampan nelayan milik warga yang tertambat indah di pesisir pantai putih itu |
| After Rain, The Blue Warm Up Hujan yang cukup dingin itu, langit cerah ini adalah penghangatnya I Love This So Muach~ Hahaha |
Nah, Kawan-kawan sekalian berhak memilih dari ketiga part diatas minimal 3 maksimal semua foto-foto yang sangat kawan-kawan sukai. Silahkan komentari fotonya, orang didalamnya, atau teknik pengambilannya. Meskipun bukan seorang fotografer profesional dengan kamera segede babon dari nikon atau canon, saya rasa hasilnya tidak buruk-buruk amat. Hehehe Semoga foto-foto diatas dapat memberikan kalian kesan yang dalam sedalam kesan saya dengan perjalanan ini. Jiah~ Hahaha

Tulis Komentar